Management Of Normal Labor

Posted: March 18, 2010 in Kedokteran
Tags: , , , , ,

Management of normal labor

🙂 Admission Procedures

Wanita hamil harus dibawa kerumah sakit ketika sudah menjelang persalinannya. Saat ini dokter ataupun bidan harus melakukan beberapa observasi persalinan, diantaranya history dan physical examination, tekanan darah, temperature dan pulse. Selain itu frekuensi, durasi dan intensitas kontraksi uterus dan waktu dimulainya perasaan tidak nyaman juga harus dicatat. Selain maternal, keadaan fetal seperti FHR, presentation part dan juga ukuran harus dicatat.

Identifikasi persalinan

Terkadang ibu hamil merasakan perasaan ingin melahirkan, padahal itu bukan tanda persalinan yang sebenarnya, untuk membedakan antara true labor dan false labor, maka kita dapat melihat dari kontraksi uterus yang dialami seperti pada tabel dibawah

True Labor False Labor
Kontraksi memiliki interval yang regular Interval kotraksi irregular
Interval kontraksi memendek secara bertahap Interval kontraksi tetap lama
Intensitas kontraksi meningkat Intensitas kontraksi tetap
Perasaan tidak nyaman di punggung da perut Perasaan tidak nyaman di perut bagian bawah
Dilatasi serviks Tidak ada dilatasi serviks
Perasaan tidak nyaman tidak dapat dihentikan dengan obat penenang Perasaan tidak nyaman dapat dihentikan dengan obat penenang

🙂 Management pada stage satu

Pada stage ini jika janin pasien telah memasuki pintu masuk panggul dan ketuban belum pecah, maka pasien diharapkan untuk berbaring ke sisi tempat punggung janin hal tersebut dapat mempermudah rotasi internal janin. Pasien disarankan untuk mengeluarkan feses, pemberian supositoria lebih dianjurkan, karena pasien tidak diperbolehkan untuk mengejan pada stage ini karena dapat mengganggu rotasi internal.

Pemeriksaan lanjutan pada stage ini adalah:

Memonitor kesejahteraan bayi

–          FHR harus segera diperiksa setiap 30 menit

–          Jika janin beresiko tinggi, maka auskultasi harus dilakukan setiap 15 menit

Kontraksi Uterus

–          Menentukan waktu mulainya kontraksi dengan menaruh telapak tangan diatas abdomen (sedikit ditekan)

–          Intensitas kontraksi uterus dapat ditentukan dari kontraksi yang dihasilkan, akan lebih jelas dengan CTG

–          Hal lain yang harus dinilai ialah Frekuensi dan durasi kontraksi

Vital Sign Ibu

–          Temperatur, Pulse dan tekanan darah harus diperiksa minimal 4 jam sekali

–          Jika ketuban telah pecah dalam beberapa jam sebelum persalinan atau adanya kenaikan temperatur, maka temperatur pasien harus diperiksa tiap jam

–          Jika ketuban telah pecah dalam waktu yang lama maka pasien harus diberikan antibiotic untuk pencegahan infeksi

Pervaginam Examination

Dilakukan untuk memeriksa:

– Kemajuan partus

-Dinding vagina adakah bagian yang menyempit atau yang dapat menghalangi jalan lahir

-Dilatasi serviks

-Kapasitas panggul (setiap 2—3 jam)

-Ada atau tidak infeksi (bartholin gland)

-Pecahnya ketuban

-Presentasi kepala janin

Rectal Examination

Dilakukan untuk memeriksa:

– Kemajuan partus

– Keuntungannya mengurangi kemungkinan infeksi pada janin

Asupan makanan

–          Menjelang persalinan seharusnya kita berpuasa sejenak, karena makanan yang ada di dalam lambung tidak dapat diserap secara maksimal. Hal tersebut dapat menyebabkan mual dan bahkan muntah; sedangkan minum diperbolehkan.

Cairan Intravena

–          Terkadang tidak terlalu dibutuhkan sampai pengkonsumsian obat analgesic

–          Bermanfaat setelah persalinan dengan pemberian oxytocin profilaktik dan terapi untuk otot uterus

–          Jika persalinan membutuhkan waktu yang lama maka digunakan untuk administrasi glukosa, sodium dan air

🙂 Management pada stage dua

Dimulai saat pembukaan telah lengkap dan pasien mulai mengejan. Kontraksi uterus akan berlangsung sekitar 75 detik dengan intervalnya kurang dari satu menit. Durasi stage kedua pada nulipara sekitar 50 menit dan 20 menit pada multipara (tetapi dapat berubah-ubah)

Usaha Persalinan

–          Posisi yang biasa digunakan ialah lithotomy; sehingga ia dapat mendorong dengan maksimal

–          Memberikan instruksi untuk menarik nafas dalam-dalam segera setelah kontraksi uterus dimulai; dan melakukan pengejanan sambil menahan nafas

–          Jika kontraksi melambat, segera lakukan auskultasi untuk memeriksa FHR

–          Akan terjadi peningkatan tenaga pendorong janin dan pelebaran diameter pelvic outlet (peregangan simfisis pubis)

Persiapan Persalinan

–          Dapat dilakukan dalam berbagai posisi; tetapi lebih disarankan posisi lithotomy

–          Pada stage kedua sering terjadi keram pada kaki yag disebabkan penekanan saraf pelvis oleh kepala janin. Hal tersebut dapat diredakan dengan pemijatan dan pergantian posisi

–          Membersihkan bagian vulva dan perineum

–          Lakukan penahanan pada bagian perineum untuk mencegah agar tidak robek

Persalinan

–          Kelahiran spontan meliputi :

  • Delivery of Head
  • Delivery of shoulder
  • Pembersihan nasopharynx : untuk meminimalisasi aspirasi cairan amnion, darah dan juga substansi lain
  • Nuchal Cord :Memeriksa apakah tali pusat menggulung bayi terlalu kuat atau tidak, jika terlalu kuat maka lakukan pemotongan dan penjahitan terlebih dahulu
  • Pemotongan tali pusat: Memotong dan menjahit tali pusat dengan jarak 4—5cm dari abdomen

*Episiotomi dianjurkan dilakukan pada primigravida. Ada beberapa teknik; yaitu:

– Medial : + Pendarahan minimal

+ Penjahitan mudah dan penyembuhan cepat (bisa tidak berbekas)

– ikut robeknya spinkter ani eksternus dan rectum

– Lateral

– Medio Lateral

🙂 Management pada stage tiga

Segera setelah kelahiran bayi, lakukan pemeriksaan ukuran dan konsistensi fundus uterus. Jika uterus teraba jelas dan tidak ada pendarahan berlebihan, maka dokter tinggal menunggu plasenta terlepas.

Tanda-tanda pemisahan plasenta

–          Uterus menjadi bulat dan lebih teraba jelas

–          Biasanya terdapat darah yang memancar tiba-tiba

–          Uterus akan turun ke segmen bawah

–          Tali pusat yang menjulur keluar dari vagina menandakan bahwa plasenta telah turun

Kustner sign

–          Tangan kanan menarik tali pusat dan tangan kiri menekan daerah suprapubis

–          Jika tali pusat masuk kembali, maka plasenta belum lepas dari dinding uterus

–          Jika tali pusat tetap menjulur maka plasenta telah lepas

Strassmann sign

–          Tangan kanan menarik tali pusat dan tangan kiri melakukan pengetukan pada bagian fundus uteri

–          Jika terasa getaran pada tali pusat yang diregangkan, maka plasenta belum terpisah

Klein sign

–          Instruksikan pasien untuk mengedan

–          Jika tali pusat masuk kembali ketika berhenti mengedan, maka plasenta belum terpisah

Tanda-tanda tersebut akan muncul 1—5 menit setelah kelahiran. Ketika plasenta telah terpisah, instruksikan pasien untuk mengejan dan lakukan penekanan fundus berulang-ulang.

Delivery of placenta

–          Lakukan penekanan pada abdomen berulang-ulang, hingga plasenta terlihat di introitus

–          Tarik tali pusat perlahan-lahan

–          Jika dikhawatirkan terjadi kerusakan membrane, maka gunakanlah forcep

🙂 Management pada stage empat

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan setelah seluruh proses persalinan

–          Tidak ada pendarahan vagina atau pendarahan dalam

–          Plasenta telah terpisah

–          Luka pada perineum terawatt dengan baik dan tidak ada hematoma (penggumpalan darah)

–          Janin dan ibu dalam keadaan baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s