Etika Lingkungan

Posted: May 22, 2009 in opini saiiia
Tags: , , , ,

ETIKA LINGKUNGAN

oleh Tiara Ayu Murti, 0806453415

Judul               : Etika Lingkungan

Pengarang       : Dr. Irmayanti Meliono, M.Si dkk

Data Publikasi : Bahan Ajar I MPKT

Judul               : Pendidikan Etika

Pengarang       : John MacDougall

Data Publikasi : apakabar@clark.net

Judul               : Pengenalan Etika Lingkungan

Pengarang       : Oemar Sari

Data Publikasi : osari@rumah.indcee.or.id

Judul               : Etika  Lingkungan di Indonesia

Pengarang       : Editor Media Indonesia

Data Publikasi : Harian Media Indonesia(digital) 2000

Judul               :Global warming vs ekonomi

Pengarang       : Nessa Nendyta Tedji

Data Publikasi : http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=12&id=1709

Etika merupakan ilmu pengetahuan tentang  kesusilaan (moral), berarti etika membicarakan kesusilaan (moralitas) secara ilmiah. Sekalipun demikian etika sama sekali tidak bermaksud untuk menggiring semua orang untuk bertindak sesuai dengan moralitas begitu saja.

Etika lingkungan adalah berbagai prinsip moral lingkungan. Jadi etika lingkungan merupakan petunjuk atau arah perilaku praktis manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan. Dengan etika lingkungan tidak saja  mengimbangi  hak dengan  kewajiban terhadap lingkungan, tetapi etika lingkungan juga membatasi tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan hidup kita.

Secara moral, sikap kita terhadap arah dan proses pembangunan perlu diubah darisikap yang hanya peduli terhadap kepentingan diri sendiri , menjadi sikap yang peduli terhadap kepentingan bersama. Dengan etika lingkungan ini, diharapkan terwujud suatu pembangunan yang betul-betul melarutkan unsur lingkungan dalam prosesnya.

pendidikan merupakan hal penting  untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat dilaksanakan baik melalui jalur pendidikan formal, misalnya sejak masih diTK (Taman Kanak), SD sampai ke pendidikan tinggi maupun melalui pendidikan non formal. Satu metode penentu utnuk menyadarkan dan meyakinkan masyarakat tentang krisis lingkungan yang makin parah adalah melaui jalur pendidikan. Sekolah yang menjadi sasaran penting untuk menanamkan lingkungan hidup bagi anak didik adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang jumlahnya sekarang mencapai 6 juta orang dengan usia antara 16-19 tahun.

“Para remaja usia adolesent yang memerlukan pendidikan dan pembinaan
agar mampu menjadi dewasa yang dikemudian hari dari bertanggung jawab pada
kehidupan dan lingkungan yang bermutu, “kata Jusuf(harian media:2000).

Etika lingkungan itu, antara lain, semua pihak harus menyadari dan meyakini bahwa sumber alam di bumi sangat terbatas. Selain itu, siapapun harus menempatkan dirinya sebagai bagian dari alam. Bahkan masyarakat harus memamfaatkan sumber daya alam secara benar, terkendali, dan bertanggung jawab.

Menurut Dr Maftuchah Jusuf(apakabar@clark.net:2000), pendidikan etika lingkungan di sekolah-sekolah, SD, SLTP, SLTA harus diberikan secara terintegrasi denagn
bidang studi yang diajarkan. Misalnya, dalam pelajaran IPA, PMP, IPS dan Agama.

Etika bermaksud membantu manusia unntuk brtindak secara bebas dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, kebebasan dan tanggung jawab merupakan kondisi dasar  bagi pengambilan keputusan atau tindakan yang etis dengan menempatkan hati nurani pada posisi sentral.

Salah satu sifat cirri dari etika adalah sifatnya yang aplikatif, yakni suatu etika yang sudah dikaitkan dengan bidang ilmu tertentu. Etika lingkungan adalah berbagai prinsip moral lingkungan. Jadi etika lingkungan merupakan petunjuk manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan.

Banyak teknologi sekarang ini yang secara ekonomis menguntungkan, tetapi secara ekologis mengundang akibat yang sulit dterka sebelumnya. Inilah yang melatar belakangi munculnya pesan-pesan etika lingkungan agar siapa saja yang bertanggung jawab dalam perencanan dan pengelolaan sumber daya atas nama pembangunan, mengambil sikap berhati-hati dan arif demi kebahagiaan yang berjangka panjang.

Jadi, setiap orang hendaknya perlu menempatkan dirinya sebagai mitra bagi yang lain, sehingga dua kutub kepentingan, yakni kepentingan ekonomi demi kesejahteraan umat manusia, dan kepentingan lingkungan sebagai ruang tempat melangsungkan kehidupan dapat berjalan seimbang. Etika lingkungan adalah perekat antara keduanya.

Dalam pemicu kali ini, kita dapat heran dengan tingkah pejabat negara yang tidak mempunyai etika lingkungan yang baik, te;ah disebutkan sebelumnya bahwa etika lingkungan harus bersifat aplikatif.  Walaupun  kedua pejabat Negara tersebut mengerti dan memahami apa itu etika lingkungan, tetapi mereka tidak dapat menerapkannya dalam segala kebijakan yang diambil, maka itu sama saja omong kosong.

Perkebunan dan Hutan Tanaman Industri (HTI) sebagai salah satu komiditi terbesar Riau adalah penyumbang terbesar kebakaran hutan melalui aktivitas pembukaan lahan. Pembukaan lahan dengan membakar dianggap efektif karena memakan biaya yang rendah dan cepat, tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Walau sudah ada peraturan yang melarang pembakaran lahan, lemahnya kontrol dari pemerintah dan masyarakat menyebabkan pembakaran hutan sering terjadi. Pemerintah juga dihadapkan pada masalah penegakan hukum karena orang yang membakar lahan umumnya hanyalah orang suruhan dari perusahaan atau perantara. Menurut Nessa(www.riauinfo.com), inilah faktor yang menyebabkan mengapa kasus kebakaran hutan yang dilakukan Hak Pengusahaan Hutan dan Perkebunan tidak pernah tuntas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s