Menanti Bidadari

Posted: November 23, 2008 in cerpen
Tags: , , , ,

“bila masih mungkin waktu ku putar kan kutunggu dirimu……”

Dirimu datang dikala cahaya itu tiba, seolah engkaulah cahaya itu. Cahaya yang ta pernah redup sekalipun jiwa mu layu, cahaya yang ta pernah menyerah menyinariku dan menghangatkanku. sosok sempurna yang diberikanNya untuk ku.
Saat itu kau tersenyum memperkenalkan dirimu secara lugu, ku tahu pasti bahwa kau bukanlah orang yang cukup pendian seperti yang kau tampilkan didepan mereka. Tak begitu lama setelah itu kau pun ta sanggup menhan dirimu, kau memulai dengan lelucon-lelucon kecil, membuat suasana semakin hidup, akupun pandai menghidupkan suasana, tapi aku ta sepandai dirimu..
Kau sangat mudah membuatku terperangkap dalam cahayamu, kau memainkan gitar, memperagakan jurus hitten mitsurugi, bergaya fumopu, sampai bercapoera. Tidak hanya aku yang ada dalam lingkaran cahaya itu, kakak ku, ibuku , bahkan ayahku pun merasakan hal yang sama.
Tapi suatu saat aku benar-benar tersadar bahwa kau adalah cahaya untuk semua orang, aku hanya sebagian kecil yang menerima cahaya itu. Dan aku pun sadar, ahwa cahayamu tetap hidup karena kau mempunyai cahaya untuk hidupmu. Dan itu bukan aku…

Sikapnya terhadap semua orang memang seperti itu, ia sangunis sejati. Kuingat saat kami pergi ke taman bunga bersama kakak ku, ia dengan semangat nya mengatakan “wahhh indahhh…” hal itu seharusnya terdengar menjijikan apabila laki-laki yang mengucapkan, tapi ia lain, ia sangat polos.. dan aku tahu bahwa itu benar-benar dikatakan dari dalam hatinya,,
Aku dan dia sama sekali ta bisa berhenti bertengkar, sampai suatu saat aku benar-benar marah dengan dia, lebih dari 1 bulan aku tidak menemukan cahayaku, aku sesungguhnya sangat kecewa dikala itu, ego ku sangat tinggi, saat itu denagn angkuh aku menanyakan kepadanya “ bukankah kau milikku??! Kenapa kau harus memberikan senyummu untuk orang lain??!” saat itu ia menjawab ku dengan kata-kata santai dan senyum yang tetap ia tunjukkan dihadapanku, yah dia tetap tersenyum, tapi tidak ada binar cahaya dimatanya. Aku sedih, aku merasa sangat melukainya..
Hubungan kami membaik ketika kami pergi ke kampung halaman bersama keluarga besar. Kelargaku dan keluarganya cukup dekat, ayahnya adalah saudara ayahku, walaupun mereka adalah saudara jauh. Kampung ku cukup jauh, yaitu di sumatra selatan, tepatnya di Palembang. Kami membutuhkan 15 jam perjalanan. Aku dan dia berada dalam 1 mobil, aku sebenarnya merasa sangat tidak nyaman, tetapi untungnya ia memulai berbicara kepadaku, ia meminta maaf atas sikapnya, saat itu ia terlihat sangat dewasa, aku semakin menyayanginya… aku merasa sangat bodoh saat itu, seharusnya aku yang meminta maaf, bukanlah dia. Tetapi itu tampaknya bukan maslah besar untuknya, mungkin ia hanya menganggapku sebagai adiknya saja, tidak sepeti diriku yang bodoh mengharapkan ynag lebih darinya..

Ia memberikan perhatian lebih kepadaku, setidaknya itu yang kurasakan.. tapi ta pernah sekalipun aku mendengar dia mengucapkan kata sayang untuk ku, ketika aku mencoba menata hati untuk tidak memperdulikannya, ketika aku sudah mengenal cinta kepada sang Pecinta, ketika aku mencintainya karena cintaku kepadaNya, ketika itu pula ia meninggalkanku, meninggalkanku dengan keherananku,, sejenak rasa cintaku kepadaNya memutih, aku merasa bahwa sesungguhnya aku lah yang sedang meninggalkan dunia saat itu, bukan dia….

Perasan ku sungguh hancur ketika mngetahui ia benar-benar tiada. Aku bingung, marah dan kecewa! Sebenarnya dia menganggapku sebagai apa? Kalaupun ia menganggapku teman, apakah seorang teman ta berhak tau apa yang temannya rasakan??? Aku bingung terhadap perasaan ku, aku merasa dillema atas perasaan ini, aku ingin marah tetapi aku merasa tidak mempunyai hak untuk itu, ingin menangis tapi aku bingung menangis sebagai apa. Ia menderita penyakit itu dan aku sama sekali tidak mengetahuinya, apa yang ia rencanakan? Menyakiti hatiku? Yah dia berhasil! Sangat berhasil menyakiti hati ini,, dia ta memberikan sedikitpun penjelasan atas hal itu. Bahkan sebelum ia dirawat,aku sempat bertengkar dengannya, saat ia dirawat aku ta sempat menjenguknya, karena ia selalu membohongiku! Ia hanya mengatakan bahwa ia terkena thypus, ia tidak pernah mengatakan bahwa ia leukimia! Aku terlalu bodoh, aku selalu tertipu oleh muka polosnya! Ia selalu tersenyum mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, selalu tersenyum dan mengatakan “sampai jumpa besok…”, selalu tersenyum dan memberikan ku semangat, aku terlalu bodoh! Aku ta pernah menyadari bahwa sebenarnya ia ta sedang baik-baik saja, bahwa sebenarnya ia mengatakan selamat tinggal bahwa sebenarnya ia mengharapkan aku lah yang tersenyum dan memberikan semangat untuknya..
Aku ada disana ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya, cahayanya memutih saat itu, kehangatannya perlahan hilang, binar matanya meredup, semuanya terenggut saat itu, kecuali satu hal, ia tetap tersenyum.. senyum terindahnya..
Saat itulah aku pertama kali mendengar ia mengatakan bahwa ia menyayangiku… sesaat sebelum syahadat tanda cinta kepada sang Pencipta terucap.

“ kau menyebutku sebagai cahaya hidup mu, tetapi bagiku kaulah cahaya yang sebenarnya, kau terlalu indah untuk bersamaku, terlalu mulia untuk ku sentuh, terlalu sempurna untuk menjadi pendampingku, itulah yang aku pikirkan selama aku berada disampingmu, taukah kamu, ketika kau berkata bahwa aku hanya milikmu, aku sangat bahagia aku bahagia karena kau ingin bersamaku, aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku padamu, aku takut ketika kau mengetahui bahwa aku menderita penyakit ini, kau akan sangat memperhatikanku, aku takut aku akan semakin menyayangimu dan tak sanggup untuk meninggalkanmu, aku sangat menyayangimu, aku hanya berharap kau mau bersama ku di satu dipan sebagai bidadari surgaku, aku ta perduli seberapa sempurnanya bidadari disana, bagiku kaulah yang sempurna untukku, aku ta perduli seberapa sucinya mereka, seindah apa mata mereka, bagiku hanya kau yang terindah, aku menanti mu bidadariku……”

Comments
  1. two tumbs up!
    keren abiz….

  2. nulisnulisnulis says:

    ciiielah….

    curhat mulu lw ah…

  3. seisyuhada says:

    ciiielah….

    curhat mulu lw ah…

    hehe iya dun mii

    two tumbs up!
    keren abiz….

    thx ya,, sering-sering mampir ya mas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s